Mengenal Sindrom Geriatri Pada Lansia Dan Cara Menanganinya
Sekilas info tentang sindrom geriatri pada orang-orang lanjut usia
Sindrom geriatri adalah serangkaian kondisi klinis pada orang berusia lanjut (lansia) yang dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup, kecacatan, bahkan risiko kematian. Sindrom geriatri adalah kondisi yang disebabkan oleh berbagai faktor serta melibatkan banyak bagian tubuh. Empat faktor risiko yang umum terdapat pada sindrom geriatri antara lain: usia lanjut, gangguan fungsi kognitif, gangguan menjalani aktivitas sehari-hari dan gangguan mobilitas. Contoh yang paling umum adalah penurunan nafsu makan. Di usia tua, nafsu makan memang umumnya menurun. Hilangnya nafsu makan ini bisa terjadi dipicu oleh kondisi fisik akibat proses penuaan, misalnya penurunan fungsi indera penciuman dan perasa yang membuat lansia malas makan karena makanan terasa hambar. Namun, ini bisa juga disebabkan oleh faktor psikologis, seperti tinggal sendirian atau depresi karena ditinggal orang terkasih. Beragam faktor ini dapat menyebabkan lansia kehilangan nafsu makan, dan lama-lama mengembangkan anoreksia. Sindrom ini tidak bisa dianggap enteng, sebab bisa menimbulkan dampak kesehatan yang lebih serius seperti gangguan fungsi organ dan meningkatkan risiko kematian. Berbagai masalah kesehatan yang muncul di usia senja Sindrom geriatri ditandai oleh sejumlah masalah kesehatan, mulai dari gangguan fungsi kognitif, gangguan menjalani aktivitas sehari-hari, dan gangguan mobilitas. Ada enam kategori yang termasuk dalam sindrom geriatri, di antaranya:

1. Berkurangnya kemampuan gerak, yang bisa diakibatkan oleh minimnya aktivitas fisik karena penurunan fungsi fisik tubuh dan penyakit penyerta. Berkurangnya kemampuan gerak seringkali membuat para lansia lebih mudah terjatuh.

2. Jatuh dan patah tulang. Para lansia sering mengalami jatuh hingga patah tulang akibat gangguan keseimbangan yang disebabkan oleh gangguan penglihatan, gangguan organ keseimbangan, atau sensor motorik. Hal ini dapat meningkatkan memicu trauma fisik maupun psikososial pada lansia, misalnya hilangnya rasa percaya diri, cemas, depresi, dan rasa takut jatuh.

3. Mengompol (inkontinensia urin) diartikan sebagai ketidakmampuan menahan keluarnya urin pada saat yang tidak tepat dan tidak diinginkan. Pada lansia, hal ini dapat menimbulkan masalah kesehatan lain, seperti dehidrasi karena pasien cenderung mengurangi minumnya karena takut mengompol, jatuh, dan patah tulang karena terpeleset oleh urin.

4. Demensia. Demensia meliputi penurunan daya ingat, kemunduran fungsi kognitid, perubahan perilaku, dan fungsi otak lainnya sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Demensia pada lansia dapat terjadi karena penuaan alami, penyakit alzheimer, stroke berulang, trauma kepala, gangguan hormon, masalah nutrisi, dan lain-lain.
5. Delirium. Delirium adalah suatu kebingungan akut yang ditandai dengan bicara ngelantur, gelisah, sulit mengalihkan perhatian, ketakutan, dan lain-lain. Hal ini disebabkan oleh gangguan metabolisme di otak akibat gangguan metabolik, infeksi, trauma kepala, atau efek samping obat yang dikonsumsi.
6. Isolasi atau menarik diri. Orang-orang lansia cenderung menarik diri dari lingkungan sekitar, biasanya disebabkan karena kesendirian, depresi, dan/atau berkurangnya kemampuan fisik.

Cara menangani sindrom geriatri
Penanganan berbagai masalah kesehatan pada sindrom geriatri akan tergantung dari penyebab masalahnya, seperti:
1. Berkurangnya kemampuan gerak (immobilisation). Penanganan gangguan kemampuan gerak pada lansia dapat dilakukan dengan terapi fisik secara perlahan menggunakan alat pendukung untuk berdiri. Dengan alat ini, pasien geriatri terbantu untuk belajar berdiri dan berjalan secara perlahan sehingga dapat menopang tubuhnya dan bergerak secara perlahan.
2. Jatuh dan patah tulang (instabilitas postural). Beri tahu tim dokter bila anggota keluarga Anda yang mengalami sindrom geriatri pernah terjatuh atau tergelincir karena oleng. Penanganan yang diberikan biasanya berupa olahraga dan fisioterapi yang bermanfaat untuk meningkatkan keseimbangan, cara berjalan, dan mencegah terjatuh. Lansia juga dianjurkan untuk rutin mengonsumsi kalsium dan vitamin D secara untuk menjaga kekuatan tulang. Hindari kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol yang dapat menurunkan massa tulang dan meningkatkan risiko fraktur pada lansia.
3. Mengompol (inkontinensia urin). Lansia akan dianjurkan untuk mengurangi konsumsi minuman berkafein, seperti kopi, teh, dan soda yang dapat meningkatkan produksi urin. Namun, pengecualian terhadap konsumsi air putih yang tetap harus diminum secara rutin untuk mencegah dehidrasi. Inkontinensia urin juga dapat ditangani dengan konsumsi obat, stimulasi saraf, atau operasi. Akan tetapi, tetap diperlukan konsultasi dengan dokter untuk penanganan yang lebih tepat pada masing-masing lansia.
4. Demensia. Bila Anda menemukan anggota keluarga yang mengalami ini, maka b
Promo
Paket Pemeriksaan TCCD
Apa itu TCCD (USG Kepala) ? Transcranial Color Dopp ... Lebih Detail
Promo Lainnya
Events
Seminar Awam
Hubungi Kami
Jl. Raya Industri Pasir Gombong - Cikarang - Bekasi
Tel. (021) 890 4160 64 | Fax. (021) 890 4159
IGD. (021) 8911 1112
Email sentramedikacikarang@yahoo.com
 
  Lokasi Kami